Konseling HIV merupakan salah satu komponen utama dalam program penanggulangan HIV/AIDS

Pekanbaru (dinkes.riau.go.id) – Dalam Program penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS seperti pengamanan darah, Komunikasi-Informasi dan Edukasi (KlE) telah berjalan cukup baik, namun program pelayanan dan dukungan masih terbatas, khususnya program konseling berkelanjutan setelah seseorang di tes HIV.

Dengan tersedianya anggaran Global Fund Komponen AIDS, Dinas Kesehatan Provinsi Riau Tahun 2019 mengadakan kegiatan Pertemuan Joint TB dan HIV Planning dengan peserta dari 7 Kabupaten/Kota yang dilaksanankan selama 3 hari dari tanggal 29-31 Juli 2019 di Hotel Royal Asnof Pekanbaru.

Dalam laporan singkat yang disampaikan oleh ketua panitia menyebutkan bahwa "diharapkan Setelah mengikuti kegiatan pertemuan ini peserta mampu melakukan konseling kepatuhan minum obat, konseling perubahan perilaku untuk kepatuhan minum obat, konseling pasangan dan keluarga serat konseling masalah khusus terkait kepatuhan minum obat".

Senin (29/07/2019) Pertemuan ini dibuka secara langsung oleh Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Yenvetris, SKM, M.Kes. Dalam pidato sambutannya beliau menyebutkan bahwa "Konseling HIV merupakan salah satu komponen utama dalam program penanggulangan HIV/AIDS terutama terkait kepatuhan minum obat pada ODHA" sebutnya.

"Adanya perkembangan obat Anti Retroviral (ARV), para pakar kesehatan optimis bahwa upaya penanggulangan HIV dapat dikendalikan" ucapnya.

Seiring dengan perkembangan terapi ARV (Anti Retroviral), WHO (World Health Organization) mencanangkan program penanggulangan HIV/AIDS dengan sebutan Three Zero yaitu diharapkan pada tahun 2030 tidak akan ada lagi infeksi baru HIV, tidak ada lagi kematian karena HIV dan tidak ada Iagi stigma dan diskriminasi terhadap HIV/AlDS.

Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Yenvetris, SKM, M.Kes  juga menyampaikan bahwa "Untuk mencapai tujuan tersebut maka dibuatlah target Fast Track yaitu pada tahun 2030 sebanyak 90% orang mengetahui status HIVnya, 90% orang yang terinfeksi HIV sudah menggunakan terapi ARV dan tetap berada dalam terapi ARV, serta 90% orang yang berada dalam terapi ARV patuh terhadap terapi tersebut sehingga HIV dalam tubuh dapat ditekan sedemikian rupa sehingga bila dilakukan pemeriksaan, HIV sudah tidak terdeteksi lagi" sampainya.

Berkaitan dengan target 90% pertama, maka dilakukan tes HIV secara masif di berbagai tatanan layanan kesehatan melalui tes atas inisiatif petugas kesehatan maupun tes atas keinginan pasien/klien. Dalam hal ini diupayakan tes HIV bukan lagi sebagai hal yang luar biasa, namun diperlakukan sebagai tes yang sama seperti tes kesehatan lainnya.

Sampai saat ini stigma dan diskriminasi terhadap HIV dan AIDS di layanan kesehatan maupun masyarakat masih cukup banyak. Oleh karena itu dikhawatirkan upaya melakukan tes HIV kepada pasien berpotensi menemui tantangan bila tidak disinergikan dengan upaya diantaranya edukasi kesehatan dan konseling baik kepada pasien/klien, pasangan, keluarga maupun masyarakat.

Dalam rangka pencapaian 90% kedua dan ketiga perlu dikembangkan strategi konseling terutama konseling kepatuhan minum obat dan konseling Iain yang berkaitan langsung maupun tidak dengan kepatuhan berobat.

Diakhir sambutannya Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Yenvetris, SKM, M.Kes berharap agar peserta dapat mengikuti pertemuan ini dengan baik sehingga peserta dapat menambah pengetahuan dan keterampilannya dalam melaksanakan konseling kepatuhan minum obat HIV di fasilitas layanan kesehatan, yang akan memberi dampak terhadap meningkatnya jumlah ODHA on ART dan ODHA dengan viral load tersupresi.

Jenis Publikasi: 

Zircon - This is a contributing Drupal Theme
Design by WeebPal.